Jenis Jenis Tanah Yang Terdapat di Indonesia Beserta Penjelasan Lengkap

Jenis Jenis Tanah – Tanah merupakan tempat kita semua berpijak di muka bumi ini. Tanah menjadi salah satu penunjang semua makhuk di muka bumi dalam menunjang kehidupannya. Bagi tanaman, tanah menjadi tempat hidup dan dapat menyediakan unsur hara, nutrisi, dan air di bumi.

Selain sebagai tempat berpijak, tanah menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme, baik yang ada di muka bumi maupun di dalam tanah itu sendiri.

Asal usul tanah adalah bentukan dari proses pelapukan batuan yang mendapat bantuan oleh berbagai organisme yang akhirnya memebentuk sebuah tekstur yang unik. Dalam prosesnya, tanah akan membentuk lapisan-lapisan yang kemudian dapat menutupi seluruh permukaan bumi.

Di Indonesia, banyak sekali jenis tanah yang bisa ditemukan. Berikut ini adalah jenis-jenis tanah beserta penjelasannya secara singkat.

Jenis Tanah Organosol atau Tanah Gambut

jenis tanah organosol

contoh jenis tanah organosol (8villages.com)

Jenis tanah ini berasal dari pelapukan atau pembusukan bahan induk organik dari hutan rawa. Tanah di hutan rawa memiliki ciri-ciri dan sifat berupa tidak terjadi diferensiasi horizon secara jelas. Ciri yang lain adalah memiliki ketebalan lebih dari 0,5 m, berwarna coklat hingga kehitaman, bertekstur debu lempung, tidak berstruktur, dan konsistensi tidak lekat dan agak lekat.

Umumnya tanah ini bersifat sangat asam (pH = 4,0) dan memiliki unsur hara rendah.

Berdasarkan persebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi beberapa jenis. Jenis jenis tanah gambut tersebut adalah.

  • Gambut Ombrogen

Jenis tanah yang satu ini tersebar di daerah dataran pantai Sumbawa yang memiliki ketebalan 0,5 m -16 m. Tanah gambut ombrogen terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. Tanah ini memiliki ciri selalu tergenang air dan bersifat asam.

Persebaran tanah ini adalah di daerah dataran pantai sumatera, Kalimantan, dan papua.

  • Gambut Topogen

Jenis tanah gambut topogen banyak terbentuk di daerah cekungan antara rawa-rawa di daerah daratan rendah ataupun di pegunungan. Sumber pembentuk tanah ini berasal dari sisa tumbuhan rawa dan memiliki ketebalan antara 0,5 m – 6 m. Sifat tanah ini agak asam dan memiliki kandungan unsur hara yang relatif lebih tinggi.

Persebaran tanah ini antara lain di Rawa Pening (Jawa Tengah).

  • Gambut Pegunungan

Jenis tanah ini terbentuk di daerah topografi pegunungan. Tanah ini berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang hidupnya seperti di daerah sedang. Contohnya adalah di daerah dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah).

Berdasarkan susunan kimianya, jenis jenis tanah gambut pegunungan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.

  • Gambut Eutrof : Tanah ini memiliki sifat agak asam, kandungan O2 (oksigen) lebih tinggi, dan mempunyai kandungan unsur hara yang relatif lebih tinggi.
  • Gambut Oligotrof : Tanah gambut jenis ini memiliki sifat sangat asam, mengandung kurang O2 , kurang unsur hara, dan selalu tergenang air.
  • Gambut Mestrof : Tanah ini merupakan peralihan antara eutrof dan oligotrof.

Jenis Tanah Alluvial

tanah alluvial

contoh tanah alluvial (amuzigi.com)

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk alluvium, tekstur beraneka, belum berbentuk struktur, konsistensi dalam keadaan basah lekat, pH beraneka, dan kesuburan umumnya sedang hingga tinggi.

Persebarannya terdapat di daerah dataran alluvial sungai, dataran alluvial pantai, dan daerah cekungan.

Jenis Tanah Regosol

jenis tanah regosol

contoh tanah regosol (campusnancy.blogpot.com)

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami deferensiasi horizon, bertekstur pasir, strukur berbutir tunggal, konsistensi lepas, pH-nya netral, kesuburan sedang, dan berasal dari bahan induk material vulkanis piklastik atau pasir pantai.

Persebarannya di daerah lereng vulkan muda, daerah beting pantai, dan gumuk pasir pantai.

Jenis Tanah Litosol

jenis tanah litosol

contoh tanah litosol (hedisasrawan.blogspot.com)

Litosol merupakan tanah mineral dengan sedikit perkembangan profil. Batuan induknya adalah batuan beku yang berasal dari hasil letusan gunung berapi dan batuan sedimen yang mengalami proses pelapukan. Tanah ini memiliki solum tanah dangkal (< 30 cm), bahkan kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk (outcrop).

Tanah litosol memiliki tekstur bermacam-macam. Pada umumnya tanah ini bertekstur pasir dan tidak berstruktur. Selain itu mengandung banyak sekali batu, kerikil, dan memiliki tingkat kesuburan yang bervariasi.

Litosol dapat dijumpai di segala iklim, umumnya terdapat di daerah bertopografi berbukit, pegunungan, dan kemiringan lereng miring hingga curam.

Jenis Tanah Latosol

Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi deferensisai horizon. Tanah jenis ini termasuk yang memiliki solum tanah tebal bahkan sangat tebal. Pada umumnya memiliki tekstur lempung atau liat, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, dan mememiliki warna cokelat, merah hingga kuning.

Tanah latosol tersebar di daerah beriklim basah yang memiliki curah hujan >300 mm/tahun, ketinggian tempat berkisar 300-1000 m, batuan induk tur, material vulkanik, batuan breksi, dan batuan beku intrusi.

Jenis Tanah Grumusol

Jenis tanah ini berasal dari batu kapur, mergel, dan batuan lempeng atau tuff vulkanik bersifat basa sehingga mengakibatkan tidak ada aktifitas organik di dalamnya.

Grumusol merupakan tanah mineral yang telah memiliki perkembangan profil dan agak tebal. Tanah ini memiliki tekstur lempung berat, struktur kersai (granural) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di lapisan bawah.

Konsistensi jika basah sangat lekat dan plastis jika kering menjadi kering dan sangat keras hingga tanah retak-retak. Umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, kapasitas absorbs tinggi, permeabilitas lambat, dan peka terhadap erosi.

Tanah grumusol memiliki kandungan organik yang termasuk rendah. Semakin dalam lapisan tanah semakin sedikit pula kandungan organik yang ada.

Persebaran tanah grumusol adalah di daerah iklim subhumid atau subarid dengan curah hujan <2500 mm/tahun.

Jenis Tanah Podsoil Merah kuning

Tanah ini terbentuk dari hasil curah hujan yang sangat tinggi dan suhu yang sangat rendah sekali.

Tanah mineral ini telah berkembang yang memiliki lapisan tanah atau solum datar dan memiliki tekstur lempung hingga berpasir. tanah PMK (podsoil merah kuning) memiliki struktur gumpal, konsistensi lekat, dan bersifat agak asam (pH <5,5).

Tingkat kesuburan tanah jenis ini mulai dari rendah hingga sedang, berwarna merah hingga kuning, kejenuhan basa rendah, dan peka terhadap erosi.

Tanah ini berasal dari batuan pasir kwarsa, tuff vulkanis bersifat asam, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, dn curah hujan lebih dari 2.500 mm/tahun.

Jenis Tanah Podsol

Tanah jenis ini mempunyai perkembangan profil, susunan horizon terdiri atas horizon A2 dan B2 yang jelas. Tekstur tanah ini lempung hingga pasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir kwarsanya tinggi, sangat masam, kesuburan rendah, dan peka terhadap erosi.

Batuan induknya berupa batuan pasir dengan kandungan kwarsa yang tinggi, batuan lempung dan tuff masam subresen.

Persebaran jenis tanah ini terdapat di daerah beriklim basah yang memiliki curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun tanpa bulan kering, dan topografi pegunungan. Contoh persebarannya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, dan Papua.

Jenis Tanah Andosol

Andosol merupakan jenis tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil dan solum agak tebal. Tanah ini memiliki warna coklat kelabu hingga hitam. Selain itu, tanah andosol memiliki kandungan bahan organik tinggi. Tanah ini bertekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur, dan bersifat licin berminyak.

Jenis tanah andosol kadang-kadang perpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi, daya absorbsi sedang, kelembapan tinggi, permeabilitas sedang, dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuff vulkanik.

Jenis Tanah Mediteran Merah Kuning

tanah mediteran merah kuning

contoh tanah mediteran merah kuning (tsuco-indonesiablogspot.com)

Tanah ini telah mengalami perkembangan profil, solum sedang hingga dangkal. Tanah ini berwarna coklat hingga merah. Jenis tanah ini mempunyai horizon B agrilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh, dan lekat jika basah.

Tanah mediteran merah kuning mempunyai pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorbsi sedang, permeabilitas sedang, dan peka terhadap erosi.

Bahan induk berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuff vulkanik bersifat basa. Persebarannya terdapat di daerah beriklim subhumid, bulan kering nyata, curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun, daerah pegunungan lipatan, topografi karts, lereng vulkanik, dan ketinggian di bawah 400 meter.

Jenis Tanah Hidromorf Kelabu (Gleisol)

tanah hidromorf kelabu

contoh tanah hidromorf kelabu (saktidesain.com)

Jenis tanah ini perkembangannya dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi yang merupakan dataran rendah atau cekungan. Tanah jenis ini hampir selalu tergenang air dan memiliki solum tanah sedang. Ciri-ciri yang lain adalah memilik warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga lempung, struktur berlumpur hingga massif, konsistensi lekat, dan bersifat asam (pH 4,5-6,0).

Ciri kelas tanah ini adanya lapisan glei continue yang memiliki warna kelabu pucat pada kedalaman kurang dari 0,5 meter akibat dari profil tanah yang selalu jenuh air. Persebarannya di daerah beriklim humid hingga subhumid, sedangkan curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.

Jenis Tanah Sawah (Paddy Soil)

tanah sawah

contoh tanah sawah (depositphotos.com)

Tanah sawah diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun) di persawahkan dan memperlihatkan perkembangan profil khas yang menyimpang dari tanah aslinya.

Penyimpangannya antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak yang hampir kedap air disebut padas olah, sedalam 10-15 cm dari muka tanah dan setebal 2-5 cm.

Di bawah lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan mangan dan besi, tebalnya bervariasi, antara lain tergantung dari permeabilitas tanah.

Lapisan tersebut dapat menjadi lapisan padas yang tidak tembus perakaran, terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tampak jelas pada tanah latosol, mediteran, dan regosol yang tampak samar-samar pada tanah aluvial dan grumosol.

Penyebab Erosi Tanah dan Dampaknya Terhadap Kehidupan

Batuan yang telah lapuk, secara perlahan-lahan akan terkikis dan dipindahkan ke tempat lain oleh tenaga eksogen. Beberapa jenis tenaga eksogen yang bisa mengikis dan memindahkan batuan yang telah lapuk adalah air, angin, dan gletsyer.

Proses pengikisan dan pengangkutan material hasil pelapukan ininlah yang dimaksud dengan erosi.

Apabila material yang terkikis dan terangkut (erosi) seimbang dengan proses pelapukan batuan, peristiwa tersebut dinamakan erosi alamiah atau erosi geologis. Erosi geologis tidak menyebabkan kerusakan lingkungan dan bencana alam yang parah.

Berikut ini adalah beberapa jenis erosi.

  1. Erosi oleh air

Erosi yang disebabkan oleh air dapat dikategorikan menjadi sebagai berikut.

a. Erosi percikan

Erosi yang disebabkan oleh tenaga tetesan air hujan yang memecahkan agregat tanah.

b. Erosi Permukaan

Erosi yang disebabkan oleh pengikisan dan pengangkutan lapisan tanah permukaan yang disebabkan oleh aliran air di permukaan tanah.

Air yang mengalir di permukaan tanah akan mampu menghanyutkan butiran-butiran tanah yang dibawa ke tempat yang lebih rendah. Erosi permukaan akan mengangkut unsure-unsur hara yang terdapat di permukaan tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi tandus.

c. Erosi Alur

Aliran air di permukaan tanah akhirnya akan terkonsentrasi ( terkumpul) pada suatu tempat dan membentuk aliran yang lebih besar. Aliran air yang mengumpul tersebut mampu mengikis tanah (batuan) sehingga terbentuklah alur-alur aliran air.

d. Erosi parit

Apabila aliran air pada erosi alur cukup deras serata melalui batuan ayng lunak dan memiliki kemiringan lereng yang besar, aliran air tersebut membuat alur-alur yang dalam dan lebar sehingga membentuk parit-parit dengan kedalaman lebih dari 1 meter dan berbentuk huruf U atau V.

e. Erosi Tebing

Apabila aliran air sudah berada dalam alur sungai, aliran air akan mengikis tebing sungai. Di dataran rendah, bagian sungai yang terkikis adalah bagian kiri atau kanan tebing (erosi lateral).

Akibatnya akan terjadi pembelokan sungai dan selanjutnya membentuk meander. Jika kanan kiri sungai terdapat tanggul buatan, erosi lateral menjebol tanggul dan mengakibatkan banjir.

Di dataran tinggi, bagian sungai yang terkikis adalah dasar sungai sehingga makin lama sungai akan makin bertambah dalam.

f. Erosi Air Terjun

Aliran air yang melewati lereng yang tegak atau curam akan menyebabkan air terjun. Air terjun akan menyebabkan terjadinya erosi vertical dan lokasi air terjun akan bergerak mundur.

g. Erosi Gelombang Air Laut (Abrasi)

Gelombang air laut yang terus menerus menabrak pantai, baik pantai yang curam maupun pantai yang landai, dapat menghancurkan pantai tersebut.  Gelombang air laut dapat menghancurkan sawah, tambak, bahkan desa. Seperti yang banyak terjadi di daerah pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatera.

Gelombang air laut juga dapat menghancurkan batu-batuan yang keras sehingga terbentuk gua-gua di pantai.

  1. Erosi yang disebabkan oleh angin

Proses pengikisan batuan oleh angin disebut dengan deflasi. Erosi angin terjadi di daerah kering dan gurun pasir. Angin yang kencang di daerah kering atau daerah gurun mampu menerbangkan debu dan mengangkat butir-butir pasir.

  1. Erosi Gletsyer

Di daerah kutub dan di puncak-puncak pegunungan yang tinggi, tumpukan salju yang mencair akan menuruni lereng dan mengikis batuan yang dilaluinya. Material hasil kikisan akan diendapkan di daerah ujung gletsyer.

  1. Gerak massa batuan

Berbagai bentuk dan jenis batuan yang terdapat di muka bumi dapat berpindah tempat secara massal (secara besar-besaran) ke tempat yang lebih rendah. Perpindahan massa batuan secara massal tersebut terutama disebabkan oleh pengaruh gravitasi. Penjelasan lengkap mengenai gerak massa batuan telah kami bahas di artikel sebelumnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: