Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Sang Khalifah Pertama Umat Islam

Kisah Abu Bakar – Assalamu’alaikum sahabat lamosea. Kali ini saya akan menulis kisah tentang sahabat Nabi Muhammad yang paling pertama masuk islam dari kalangan laki-laki. Beliau adalah Abu Bakar yang dikemudian hari mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Kisah Abu Bakar: Nasab dan Karakter

Kisah Abu Bakar diawali dengan mengungkap nama aslinya. Sejak kita kecil sampai dewasa pasti kita sudah tidak asing dengan nama Abu Bakar. Namun, kalau ditanya siapa nama aslinya pasti hampir kebanyakan orang tidak mengetahuinya.

Abu Bakar memiliki nama asli dan lengkap ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tain bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr Al-Quraisy At-Taimi.

Sebagaimana dijelaskan di awal, Abu Bakar termasuk laki-laki pertama yang menerima dan memeluk agama islam. Di dalam sejarah islam, orang-orang yang pertama masuk islam dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun (yang terdahulu).

Selain Abu Bakar, golongan Assabiqunal Awwalun yang lainnya adalah istri Nabi Muhammad yaitu Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah (pembantu Nabi), Ali bin Abu Thalib (anak paman Nabi), dan lain sebagainya.

Abu Bakar lahir di Mekkah kurang lebih dua tahun setelah Nabi Muhammad dilahirkan. Apabila ditarik garis nasabnya, Abu Bakar akan bertemu dengan nasab Nabi melalui jalur kakeknya yaitu Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.

Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, ramah, pengasih, memiliki akhlak mulia, serta terkenal. Kaumnya suka mendatangi Abu Bakar karena beliau dikenal sebagai berpengatahuan luas dan pandai serta sukses dalam berdagang. Selain itu juga beliau sangat baik dalam pergaulan dengan orang lain.

Karena kecakapan yang dimiliki Abu Bakar ini, lewat seruannya beliau berhasil mengajak beberapa orang masuk islam, yaitu Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin’Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidilah.

Kisah Abu Bakar: Gelar yang Disandang

Selama hidupnya Abu Bakar dikenal memiliki dua gelar yang terkenal, yaitu Ash Shiddiq dan Al ‘Atiq. Gelar pertama yaitu Abu Bakar Al ‘Atiq diberikan kepada beliau menurut sebagian ulama karena wajah beliau yang tampan.

Ada pendapat yang lain mengatakan bahwa gelar Al ‘Atiq diberikan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan.

Diceritakan oleh Aisyah radhiyallahuanha bahwa beliau pernah sedang berada di rumah. Sedangkan Rasulullah bersama para sahabatnya sedang duduk-duduk di depan rumah. Beberapa saat kemudian Abu Bakar datang.

Kemudian Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang ingin melihat seorang ‘Atiq (yang dibebaskan) dari api neraka, hendaklah dia melihat orang ini (Abu Bakar).”

Gelar kedua Abu Bakar adalah Ash Shiddiq. Beliau mendapatkan gelar ini karena selalu membenarkan semua apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Pernah suatu ketika ada kabar mengenai Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam diberangkatkan isra’ oleh Allah ke Baitul Maqdis, Masjidil Aqsa, Palestina. Setelah itu dimi’rajkan menuju Allah untuk menerima perintah sholat.

Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pulang dari isra’ mi’raj, beliau kemudian mengabarkan semua yang terjadi kepada umatnya. Namun banyak diantara kaum muslimin yang menjadi ragu dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam.

Kabar ini membuat Abu Jahal merasa memiliki senjata baru untuk menarik kembali orang-orang Quraisy yang telah masuk islam.

Namun ketika kabar isra’ mi’rajnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam sampai ke telinga Abu Bakar, beliau mengatakan jika yang mengatakan itu adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam pastilah itu benar adanya.

Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau mengatakan kepada kaum Quraisy yang memberi kabar bahwa, “Ketahuilah, jika di depan mataku ada tembok yang berwarna putih, namun Nabi Muhammad mengatakan bahwa itu berwarna hitam, maka saya akan membohongkan mata saya dan berkata bahwa tembok itu hitam.”

Kisah Abu Bakar: Berbagai Keutamaan

Berikut ini adalah kisah Abu Bakar yang berkenaan dengan keutamaan-keutamaan yang beliau miliki. Setelah mengetahui berbagai keutamaan yang dimiliki, semoga semakin membuat kita semakin cinta kepada beliau dan dapat meneladani kehidupannya.

Dijamin Surga yang kekal

Secara umum disebutkan dalam Surat At Taubah ayat 100 bahwa orang-orang yang termasuk dalam Assabiqunal Awwalun atau orang yang pertama kali memeluk islam dijanjikan oleh Allah surga yang kekal.

Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasulnya. Selain itu beliau juga selalu membenarkan apa pun yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Karena itulah beliau diberi gelar Abu Bakar Ash Shiddiq.

kisah abu bakar

Orang yang menemani Rasulullah Hijrah

Abu Bakar adalah orang yang menemani Rasulullah Hijrah ke Madinah. Beliau lah yang menjaga, menemani, dan menjaga Rasulullah selama perjalanan.

Ketika itu Nabi Muhamamd dikejar-kejar oleh musyrikin untuk diusir dari Mekkah bahkan akan dibunuh. Dalam pelariannya, beliau kemudian masuk dan bersembunyi di dalam Gua Tsur.

Ketika di dalam gua, Abu bakar ketakutan apabila kaum musyrik akan bisa menemukan mereka dengan melihat jejak-jejak yang tertinggal.

Kemudian Rasulullah menenangkan Abu Bakar dengan bersabda, “Hai Abu Bakar, Bagaimana dugaanmu terhadap dua orang dan yang ketiganya adalah Allah?”. Setelah mendengar perkataan Nabi, kemudian Abu Bakar menjadi tenang.

Kejadian tersebut sebagaimana terukir indah di dalam Surat At Taubah ayat 40.

kisah abu bakar

Paling Dalam Ilmunya

Pernah suatu ketika Rasulullah berkhutbah di hadapan para sahabatnya. Kisah ini diceritakan oleh Abu Sa’id Al Khudri. Rasulullah berkhutbah “Sesungguhnya Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih dunia atau memilih ganjaran pahala dan apa yang ada disisi-Nya, dan hamba tersebut memilih apa yang ada disisi Allah.”

Kemudian Abu Bakar menangis ketika mendengar hal itu. Para sahabat heran mengapa Abu Bakar menangis padahal Rasulullah hanya menceritakan hamba yang memilih kebaikan.

Akhirnya mereka tahu bahwa hamba tersebut tidak lain tidak bukan adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam sendiri. Abu Bakar lah yang paling mengerti serta memiliki ilmu yang dalam dari pada mereka yang ada pada saat itu.

Kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya.

Dicintai Rasulullah

Pernah terjadi suatu kejadian, hal ini diceritakan oleh Amr bin Ash. Suatu hari Rasulullah pernah mengutus Amr bin Ash dalam perang Dzatussalasil. Kemudian beliau bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah yang paling engkau cintai? Setelah itu Rasulullah menjawab, “Aisyah.” Lantas beliau bertanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki?”, kemudian Rasulullah menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).”

Paling Bersemangat Beramal

Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 271.

kisah abu bakar

Ayat diatas menurut Ibnu Katsir turun berkenaan dengan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab Al Faruq saling berlomba dalam bersedekah.

Umar bin Khattab memberikan setengah dari hartanya, kemudian Abu Bakar datang dan memberikan seluruh hartanya seraya berkata, “Aku tinggalkan mereka untuk Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian Umar bin Khattab berkata, ”Selamanya aku tidak akan dapat mengalahkannya dalam hal apapaun.”

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengomentari keteladanan sikap Abu Bakar bahwa demikianlah semua sahabat yang telah Rasulullah janjikan masuk surga ataupun yang telah diberitahu kalau telah mendapat ampunan.

Abu Bakar dan para sahabat yang lain tersebut tidak kemudian bebas berbuat dosa dan maksiat atau meninggalkan segala yang telah diwajibkan. Mereka semua justru lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjadi semakin takut kepada Allah dari pada sebelum mereka mendapatkan kabar gembira tersebut.

Sebagaimana tercermin pada Abu Bakar dan sepuluh orang lainnya yang telah dijamin masuk surga.

Bersifat Lemah Lembut dan Pemaaf

Kisah fitnah tuduhan berbuat zina kepada Ummul Mukminin Aisyah, putri Abu Bakar merupakan salah satu bukti betapa dengkinya orang munafik terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Ketika terjadi tuduhan zina tersebut, salah satu yang terlibat adalah Misthoh bin Utsatsah, orang yang selama ini diberi makan oleh Abu Bakar. Setelah mengetahui hal itu kemudian beliau marah dan bersumpah untuk tidak member nafkah lagi.

Setelah kejadian itu turunlah firman dari Allah yaitu Surat An Nuur ayat 22.

kisah abu bakar

Abu Bakar setelah mendengar ayat tersebut kemudian segera berkata: “Tentu saja aku ingin Allah mengampuni aku.” Kemudian Abu Bakar memberi bantuan lagi kepada Misthoh sebagaimana biasanya.

Tuduhan perbuatan zina terhadap Aisyah tersebut juga kemudian mendapatkan pembelaan dari Allah lewat firman-Nya berupa surat An Nuur ayat 11-12.

Mendapat Isyarat Kekhalifahan

Salah satu isyarat kekhalifahan ditunjukkan ketika Rasulullah sakit keras di akhir hayatnya, kemudian beliau menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti imam sholat. Sebagaimana disebutkan oleh Aisyah.

Ibnu Hajar Al Atsqolani sebagaimana tercantum di Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits diatas mengisyaratkan mengenai kedudukan Abu Bakar yang paling berhak untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat.

Demikianlah beberapa poin tentang keutamaan Abu Bakar Ash Shidiq. Tentunya beliau masih punya banyak lagi keutamaan yang tidak bisa disebutkan di sini.

Sebuah keutamaan yang lengkap yang mungkin tidak banyak yang bisa seperti beliau. Beliau menjadi kekasih Rasul, sudah dijamin masuk surga ketika masih hidup, orang kecintaan Rasul, dan juga merupakan sahabat dekat Rasul.

Kisah Abu Bakar: Pidato Pertama Sebagai Khalifah

Dikisahkan bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar adalah sahabat terdekat yang paling sedih namun juga yang paling tegar. Sebagaimana disebutkan oleh Aisyah, saat itu Umar bin Khattab datang dan seakan belum menerima kematian Rasulullah.

Kemudian Abu Bakar datang dan berkata “Barangsiapa menyembah Nabi Muhammad, sesungguhnya beliau telah meninggal. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka Allah adalah Maha Hidup dan tidak mati.” Kemudian beliau membaca surat Ali Imron ayat 144.

kisah abu bakar

Kemudian Umar bin Khattab tenang dan berkata,”Aku seakan akan baru mendengar ayat tersebut, padahal sudah lama saya dengar dan hafal.”

Setelah diangkat dan dibai’at menjadi khalifah, Abu Bakar kemudian memberikan pidato pertama yang kurang lebih isinya adalah, “Wahai manusia sesungguhnya aku dipilih menjadi pemimpin oleh kalian, tapi bukan berarti aku yang terbaik diantara kalian.

Jika aku benar, maka bantulah aku dan jika aku salah maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, dan dusta adalah khianat. Orang lemah diantara kalian pada hakikatnya adalah orang kuat bagiku. Sampai aku memberikan hak-hak mereka insyaallah.

Dan orang kuat diantara kalian, sesungguhnya mereka adalah lemah bagiku. Sampai hak hak orang lemah diambil dari mereka insyaallah.

Kaum yang meninggalkan jihad, maka Allah akan hinakan mereka. Dan suatu kau yang didalamnya ad banyak kemaksiatan, maka Allah akan ratakan dengan azab.

Taatilah aku dalam ketaatan Allah dan Rasulnya. Dan jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulnya maka janganlah kau taati aku. Tegakkanlah sholat, semoga Allah merahmati kalian.”

Kisah Abu Bakar: Kebijakan Pemerintahan

Kebijakan utama Abu Bakar setelah diangkat menjadi khalifah adalah memerangi orang tidak mau membayar zakat, perusuh yang sewaktu-waktu bisa menyerang Madinah, muslimin yang murtad massala, hingga memerangi nabi palsu.

Perang Riddah (Pertempuran Yamamah)

Salah satu misi utama khalifah Abu Bakar adalah memerangi kaum murtad. Kaum murtad disini terbagi menjadi beberapa, yaitu yang tidak mau membayar zakat hingga yang benar-benar meninggalkan agama islam.

Yang tersisa hanyalah penduduk Makkah, Madinah, Thaif, dan beberapa kabilah yang tersebar di beberapa tempat saja.

Abu Bakar kemudian membentuk 11 pasukan yang disebar ke penjuru Jazirah Arab untuk mengembalikan orang-oang murtad tersebut ke dalam islam.

Salah satu yang terkenal dan memilik banyak pengikut adalah Musailamah Al Kadzdzab. Musailamah mengaku sebagai nabi sejak Nabi Muhammad masih hidup dan semakin menjadi jadi semenjak Rasulullah wafat.

Awalnya, Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal. Musailamah yang memiliki pasukan sekitar 40 ribu orang yang berasal dari kabilahnya ditambah dengan sekutunya berhasil memukul mundur pasukan yang dipimpin Ikrimah.

Setelah mengetahui hal itu, Abu Bakar kemudian mengirim pasukan lagi yang dipimpin oleh Khalid bin Walid yang memiliki pasukan sahabat-sahabat besar dari golongan muhajirin dan Anshar.

Kedua pasukan bertemu dan berperang di Yamamah, Nejed. Awalnya, pasukan Musailamah terlihat kokoh dan unggul sehngga menggoncangkan pasukan muslimin. PAsukan murtadin berhasil memukul mundur paukan yang dipimpin Khalid bin Walid.

Pada saat itu kaum muslimin merasakan bahaya yang sangat besar. Jika kalah dalam perang, bisa jadi Islam akan sulit tegak kembali.

Pada saat itu Khalid bin Walid kemudian menata semangat dan pasukannya kembali. Masing-masing pasukan dikumpulkan sesuai kelompoknya agar mereka saling menunjukkan kepahlawanan antar kelompok.

Pertempuran pun pecah kembali. Kali ini pertempuran lebih dahsyat yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Diantara yang syahid adalah tabist bin Qais sang pemegang panji Anshar, Salim mantan budak Abu Hudzaifah sang pemegang panji Muhajrin, dan Zaid bin Khattab yang gagah berani menerjang musuh.

Kisah Kegigihan Al Barra’

Di dalam pertempuran ini, nama Al Barra’ bin Malik terukir harum karena kegigihan dan keberaniannya. Beliau berkata pada kaumnya bahwa wahai kaum Anshar, jangan kalian berpikir untuk pulang kembali ke Madinah, tidak ada MAdinah bagi kalian setelah ini selain Allah dan Syahid.

Setelah itu Al Barra’ bin Malik maju menerjang musuh hingga pasukan Musailamah kelabakan. Musailamah dan pasukannya kemudian masuk ke dalam sebuah kebun yang dijadikan sebagai benteng.

Benteng tersebut sangat luas dan dindingnya tinggi. Dari dalam benteng, pasukan Musailamah menghujani kaum muslimin dengan anak panah.

Al Barra’ bin Malik kemudian mempunyai ide yang seilas tidak masuk diakal. Beliau berkata untuk meletakkan tubuhnya diatas tameng dan meminta untuk dilempar ke dalam benteng untuk membuka pintu dari dalam benteng.

Singkatnya kemudian Al Barra’ bin Malik berhasil dilepar dan masuk ke dalam benteng. Di dekat pintu benteng, Al Barra menerjang sendirian pasukan Musailamah dan kemudian berhasil membuka pintu.

Setelah itu, kaum muslimin berhamburan memasuki benteng dan benteng tersebut sekan menjadi perangkap bagi pasukan Musailamah sendiri. Akhirnya terbunuhlah Musailamah Al Kadzdzab sang nabi palsu.

Pengumpulan Al quran

Pada pertemuran di Yamamah, banyak para penghafal Quran yang terbunuh. Hal ini menjadi peristiwa yang amat meresahkan pada masa pemerintahan Abu Bakar. Kondisi tersebut membuat Umar bin Khattab khawatir.

Kemudian beliau mengajak musyawarah Abu Bakar untuk memecahkan permasalahan ini. Umar mengusulkan agar Abu Bakar memerintahkan unutk pengumpulan Al Quran dalam satu buku yang akhirnya disebut dengan mushaf.

Pada awalnya Abu Bakar menolak, beliau takut melangkahi Nabi Muhammad dalam hal ini karena semasa hidup beliau tidak memerintahkan hal yang demikian.

Setelah berdiskusi lama tentang hal positif yang akan didapat akan hasil dari pengumpulan Al Quran, kemudian Abu Bakar menyetujui usulan tersebut. Zaid bin Tsabit, sang penulis wahyu Rasulullah,  lah yang diutus untuk menjadi pengumpul Al Quran yang masih tercecer.

Kemudian Zaid mulai mengumpulkan Al Quran mulai dari yang tertulis di pelepah kurma, lempengan batu, serta dari hafalan para sahabat yang masih hidup. Kemudian seluruh lembaran Al Quran disimpan di rumah Abu Bakar sampai beliau wafat.

Kisah Abu Bakar: Wafatnya Sang Khalifah

Ketika Abu Bakar merasa ajalnya sudah dekat, beliau mengundang para sahabat unutk membahas siapakah pengganti beliau. Abu Bakar kemudian menulis surat yang ditujukan kepada umat untuk menjelaskan tentang pilihannya itu.

Umar bin Khattab lah yang beliau tunjuk sebagai khalifah untuk menggantikannya. Beliau berkata, “Ketika aku meninggal nanti, aku mengangkatmu sebagai khalifah.” Kemudian Umar menolak seraya berkata “Aku tidak membutuhkan sama sekali jabatan itu.”

Namun, atas desakan Abu Bakar dan berbagai alasan yang dikemukakan, akhirnya Umar menerima. Kemudian beliau menangis sehingga orang-orang pun bertanya Tanya megapa engkau mengais wahai Umar.

Lantas Umar menjawab, “Aku adalah orang yang keras, jiak nanti aku salah, siapa yang berani mengingatkanku?” Kemudian mucul orang badui lalu menghunus pedangnya seraya berkata “Akulah yang akan mengingatkanmu.”

Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq wafat pada hari senin tanggal 22 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijriyah setelah beliau sakit kurang lebih selama 15 hari. Abu Bakar telah menjabat sebagai khalifah selama 2 tahun lebih 3 bulan. Beliau meninggal pada usia 63 tahun.

Kisah Abu Bakar: Istri dan Keturunan

Abu Bakar semasa hidupnya memiliki 4 orang istri dan mendapatkan 6 orang putra putrid dari mereka semua. Ibnu Sa’ad dalam kitabnya, kitab Thabaqat, meriwayatkan istri dan masing-masing anak beliau:

  1. Qutailah binti Abdul Uzza mendpatkan anak bernama Abdullah bin Abu Bakar dan Asma’ binti Abu Bakar.
  2. Ummu Rumaan binti Aamir bin Uwaimir mendapatkan anak bernama Abdurrahman bin Abu Bakar dan Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi Muhammad).
  3. Asma’ binti Umais mendapatkan anak bernama Muhammad bin Abu Bakar.
  4. Habibah binti Khoorijah mendapatkan anak bernama Ummu Kultsum binti Abu Bakar.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: